adsense

Ada Kalanya Malas (2)

Sejak minggu ke 5 kamu mulai menyerang. Malas dan bosan bernyanyi di telinga mengajak kembali ke bawah selimut melupakan menu hari itu.


Berbisik tak henti ketika kuikat tali sepatu lari. Bahkan kamu masih tetap berbisik ketika masuk ke kilometer ketiga. Mengajak berjalan saja sampai akhir. Kamu terlalu...


Kadang ayunan menjadi perlahan terlena bisikanmu. Namun suaramu pasti hilang ketika kupacu kaki sampai di menu hari itu. Piringku bersih. Menu lari hari itu habis tak tersisa. Aku ngga ngutang. Aku puas. 


Besoknya kamu berbisik dan nyanyi lagi.. Aku cuma bilang ayo kaki kita rasakan lagi kepuasan seperti kemarin. Puas ketika piring itu habis bersih licin tak bersisa. 


Kamu bungkam. Aku senyum. Kaki (aku janjiin masuk bengkel bila sudah selesai semuanya).

 

SEBELUM VIRGIN HM

9 bulan 10 hari yang lalu saya mulai lari. 

Mulai 2 menit treadmill running, engap.

2 K lari di GBK, dada mau meledak. Lanjut race-race 10K, 15K. Semua tanpa rencana. Semua mengalir begitu saja. 

Sampai akhirnya disini. Mencoba 21K.


Seumur.hidup baru sekali ini. Mimpi tak pernah terlintas pun tidak. Namun hidup sungguh penuh kejutan. 


Latihan 7 minggu sebelum hari H adalah harus. Mustahil bisa tanpa latihan pikir saya.  Practise makes perfect. Tiada hasil mengkhianati usaha. Begitu katanya. Latihan sudah, tapi 2 minggu mendekati hari H trio cemas takut penasaran semakin dekat semakin menggigit.


Corona meradang menghimbau menjauhi kerumunan manusia. Merapi erupsi H-5. Membuat hati ini sungguh amatlah galau.




MENU LATIHAN

Dengan waktu 7 minggu menuju hari H, menu latihan yang dimakan adalah :

Minggu pertama 30K

Minggu kedua 40K

Minggu ketiga 40K

Minggu keempat 45K

Minggu kelima 50K

Minggu keenam 40K

Minggu ketujuh 28K + race 21K = 49K


Dimulai 21 Januari 2020. Dimana saat itu selesai liburan dan libur lari pula sejak race terakhir di Desember 2019.


Minggu pertama 30K dibagi 4 hari jadi 7K perhari plus Sincia jadilah ngutang 2K dibayar di minggu ke 2. Oh sungguhlah berat minggu pertama ini. Nafas engap- engapan... body berat banget diajak lari..


Minggu kedua 41K masih agak berat juga nafas ini..masih engap... yasudah lewatin hari demi hari aja...


Minggu ketiga 40K ...nafas udah mendingan dikit. Cuma berat badan koq ga turun-turun yah... heran masih berasa berat aja..



Minggu keempat 45K... semakin tinggi aja target nya... yawudah katanya kalau mau makan gajah dimakan secuil demi secuil entar juga habis. 45 bagi 5 artinya 9K per hari. Semangat semangatin diri... paling seneng kalau sudah hari Kamis artinya sebentar lagi kaki ini libur 2 hari

There Always Be The First Time for Everything

Naik gunung...

Gak pernah kebayang kepingin, kemimpi, kalau satu saat bakal mendaki gunung. Bukan gunung biasa... Ini kawah Ijen.. mendaki dengan kemiringn 45 derajat almost sepanjang jalan 3K naik

(kalau lari 3 KM mah kuat lah ya tapi mendaki...beuuhhh!! ampunampun)

...dan baru tau kalau medannya kayak gitu ketika mulai mendaki...jadi no turning back.

 

Belum lagi turun menuju kawah buat lihat Blue Fire... dengkul lemes gelap pekat turun curam pake banged takut jatuh mata nangis belerang ngejar cut off time blue fire.

 

Mendaki kembali dari kawah menuju gunung. Gak pake lehaleha langsung turun lagi menuju pos awal tempat parkir mobil. Mendaki kemiringan 45 derajat nafas engap.. turun kemiringan 45 derajat ndlosor berkali.. naik turun naik turun nonstop 5 jam.. hasilnya paha tremor..suara yemes.. tapi senyum melebar ketika jalan mulai melandai pos awal tertangkap mata langkah riang menguras segenap raga seperti layaknya bahagia mau sampai garis finish.

 

Walau lelah badani aneh tapi nyata hati bahagia.. mata kenyang.. jiwa petualang menyusup manja.

 

There always be the first time for everything... #firsttime #kawahIjen #mountainclimbing #indonesia #eastjava #whitecrater #lakeinIndonesia #volcanoinIndonesia #LetMeTellYouAStory

Fibonacci Runners

Pertama kali saya dengar lari ratusan kilometer…  bayangin emoji mulut nganga jatuh ke lantai. Nah kira-kira begitulah reaksi saya… Seriously? Ratusan kilometer…. Kalau aja si kaki bisa ngomong kira-kira dia bakalan teriak ampuuun kali yah…

Namun setelah mengamati ternyata banyaaak sekali pelari-pelari yang larinya ratusan kilometer baik di Indonesia maupun diluar sana. Dan ternyata mereka mampu menyelesaikan dan masih tetap hidup sehat walafiat. Ternyata..sekali lagi ternyata kita gak pernah tau resisten tubuh, kapasitas tubuh manusia.

Sebagai pencinta Fibonacci, saya coba mengukur resisten lari tubuh manusia dengan Fibonacci. Fibonacci adalah deret angka ajaib yang tersebar di alam semesta pun di tubuh pelari. Lihatlah proposionalnya asset para pelari yaitu kaki, tercipta sempurna dalam ratio Fibonacci, the finger print of God. Karena itu mari kita ukur resisten lari kaki pelari.

 

Jarak race terjauh pada umumnya adalah marathon, yaitu 42KM. Pada kolom pertama maka saya mengukur jarak minimal 0Km dengan jarak maksimal marathon.

Resisten pelari pertama adalah 10K. Jarak race saat ini pada umumnya 5K dan 10K.

Resisten berikut adalah 16K. Waktu ikut Danamon Run 2019 pilihan jarak lari setelah 10K adalah 15K.

Resisten selanjutnya adalah 21K yang adalah kategori Half Marathon (HM).

Setelah itu 32K. Barulah sampai kepada Marathon.

Mungkin resisten dapat dijadikan acuan latihan bila ingin mencoba marathon.

 

Sekarang lanjut kepada kolom kedua. Diatas Marathon , 42K - 110K didapatlah angka resisten tertinggi 220K. Terdekat ada race West Coast 250K, nah jarak itu ada di kolom ketiga. Bila ingin sampai ke kolom ketiga coba lalui dulu resisten demi resisten di kolom pertama dan kedua. Kolom ketiga adalah 2 kali cycle jarak Marathon.  

 

Saya bukanlah di kategori ratusan itu, masih kategori kolom pertama yang lari 10K pacenya aja masih berantakan. Jadi saya coba mengukur lebih detail resisten lari saya.

 

Area kuning adalah area latihan berlari sehari-hari. Minimal 5K dan kalau lagi cape minimal sehari 8K. Target resisten harian 10K.

Resisten lari setelah 10K adalah 15K , 16K dan 21K.

Kira-kira begitulah ukuran lari si Fibonacci Runners ini. One step at a time.

 

“When we are enthusiastic, we develop a determination to equal the endurance of our muscles, a fortitude to match the courage of our hearts, and a passion to join with the animal strengths of our bodies. - Geoorge Seehan.”

Ketika Badan dan Otak Tak Kompak

Keleyengan… lemes..

Sudah berhari-hari seperti ini. Dan belum membaik juga. Duh mana besok mau lari.. Gimana nih.. Badan bilang tensi turun (pantesan)… Otak mulai …

”keleyengan nih”

“apa ga usah lari dulu?”

“tapi sayang, tar nyesel DNS apalagi eventnya keren”

“kalau besok pingsan gimana”

“ah masa iya sampai pingsan, malu-maluin aja… sebelum pingsan stop lah”.

 

Tetiba inget kata-kata ini, Ketika tubuh bilang ga sanggup sebenarnya itu tergantung otak. Semua tergantung otak. Organ 1.4 kg yang memerintah tubuh. Kalau saya sanggup mengendalikannya, maka tubuh pun ngikut.

Otak memulai strateginya dan memerintah badan cepet minum obat, makan daging, makan nasi dikit dan cepet tidur. Badan pun taat…

Bangun tanpa keleyengan, sempet surya namaskhara buat pemanasan dan menyeruput energen sebelum berangkat.. Thanks God badan bisa diajak lari tanpa drama dan selesailah 10K hari ini.

Start with the mind and body follows.

Page 2 of 5

Free joomla templates by www.joomlashine.com