bahagia itu…

Tidak pernah terlintas di pikiran untuk menjadi fund raiser. Tak pernah sekalipun. Apalagi jadi pelari sambil ngumpulin donasi. Cukup mengamati para pelari sambil berdonasi, cukup menjadi donatur saja tapi bukan menjadi pelaku.
Bermula dari ikut virtual run Run To Care Hybrid 2021. Karena ngga sanggup lari 155K jadi ikut Hybrid nya dulu deh dengan jarak yang paling kecil 44K. Saya ngga tahu – tepatnya tidak memeriksa lebih detail kalau ikutan VR sekaligus jadi fund raiser (kirain yang lari 155K aja fund raiser). Saya bisa mengabaikan menjadi fund raiser, toh niatnya memang cuma mau lari. Tapi hati kecil ini ga tenang, ibarat dikasih PR tapi ngga dikerjain. Ngeliat panel donasi diam ngga bergerak ke kanan memicu rasa bersalah dan merasa ga bener. Sebenarnya jumlah target donasi yang ada disitu bukan keharusan. Misalkan gak sampai target rasanya juga ngga apa-apa. Cuma koq kalau isinya kosong itu gimana ya? Sudah diberi tanggung jawab tapi masa gitu. Jadi sambil lari sambil mikir gimana caranya mengumpulkan donasi setidaknya sampai target aja deh. 5 juta. Dan muncul ide melakukan apa yang saya bisa sebagai ganti donasi. Memberi ilmu sebagai ganti donasi donatur. Ilmu x Donasi.

Saya tidak yakin apakah ini ide yang baik dan ber-etika. Jadi saya coba nanya dulu aja deh ke teman-teman di grup Fiboprincess. Bagaimana seandainya saya membuka kelas analisa teknikal dan sebagai gantinya teman-teman memberi donasi. Saya tidak menyangka sambutannya sebegitu hangat. Bahkan sudah ada yang berdonasi di saat saya masih mempersiapkan flyer kelas spesial. Sejak itu airmata dan hati saya tidak berhenti menetes bergetar menjadi saksi uluran kasih para donatur.

Menjadi salah satu dari 22 Strong Women yang dipilih @carlafelany & @league_world di momen hari Ibu Desember 2020 memberi banyak pengalaman di cerita lari saya. Di momen kasih sayang 2021 muncul ide untuk mengumpulkan donasi buat anak-anak penderita kanker dari Yayasan Pita Kuning. Sekali lagi saya hanya bisa melakukan apa yang saya bisa untuk mengumpulkan donasi.


Kembalilah dibuka kelas ilmu x donasi. Memberi sesuatu dari apa yang ada pada saya buat anak-anak. Tak pernah terpikir tentang pertukaran manfaat ini. Yang berdonasi mendapat amal. Yang mendapat donasi mendapat bantuan. Saya mendapat bahagia luar biasa. Hati saya hangat… Hidup serasa berarti.
Kebahagian itu mendaki kala terinspirasi dari salah satu strong women yang mengajarkan donasi pada anaknya. Anak-anak adalah saksi emaknya memekik kegirangan setiap donasi masuk (mereka paham donasi itu bukan jadi milik emaknya, tetap emaknya memekik gila, padahal emaknya cool aja kalau ada yang join kelas regular), ngajar 3 jam nonstop semangat happy, dan mulai lagi ngumpulin donasi kedua.
Sampai akhirnya saya bertanya apakah mereka juga mau jadi bagian? Berbagi dari yang kamu punya buat anak-anak lain. Berbagi berkat imlek yang mereka dapat. Mereka menjawab mau. Yang satu punya hati untuk anak-anak NTT dan satunya untuk anak kanker. Mereka mau berbagi. Memberikan hak, milik dan bagian kepunyaan mereka buat sesama. Dan….hati airmata emaknya paling keras menetes bergetar.
Tak pernah terbayang bahagianya jadi fund raiser.


Bahagia itu seperti ini. Bukan ketika menerima, namun ketika memberi…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *