Mewah

Adalah serba banyak; serba indah; serba berlebih (biasanya tt barang dan cara hidup yg menyenangkan).

Sepi

“Maaf diukur dulu ya suhunya.” “Cuci tangan dulu sebelum masuk ring road.”

Tiga purnama harus kupendam hasrat untuk berlari diatas aspal. Demi taat peraturan pun demi kesehatan sekeliling. Bagai utara dan selatan bedanya lari diatas karet dan aspal. Memandang langit dan tembok jauh beud rasanya (kenapa ga lari sambil nonton drakor? Pertama ku bukan pecinta drakor, kedua rusaklah pace akuh kalau sambil nonton 😋). Kembali disapa angin, memandang dan tersiram matahari pun nyatanya bonus hidup. Meresapi satu demi satu ayunan kaki diatas aspal adalah kemewahan hakiki. Mensyukuri hari, merayakan lari.

Akhirnya memandang kembali. Gelora itu. Bukan dari unggahan social media namun dari sudut mata kepalaku sendiri. Saksi pengalaman 2K pertama engapku. Tukang es jeruk peras. Patung pemanah. Pelari berkaus putih bolong celana pendek lari cepat gasrak gusruk. Pelari berkaos biru topi putih yang kukira dia namun pasti bukan. Pasangan setengah baya berjalan cepat kadang bergandengan tangan kadang lepas. Bapak diatas 60 lari pakai masker kaus basah. Bolak balik menemani langkah diatas aspal rata memanjakan kaki. Merekam yang dapat direkam indera dan menyusun rapih di rak memori.

Sebelum Covid dan the new normal tidak pernah terlintas banyak hal biasa ternyata sebuah kemewahan. Dulu kupikir besok masih bisa lagi. Besok juga bisa pergi lagi. Besok masih ada. Santuy aja, ada besok… Ternyata besok yang normal gak ada, belum ada, entah apa ada lagi.
In the blink of an eye, everything can change, never take life for granted.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *